Cetak

(Jakarta, 10/11/2016). Segera berbenah diri menjadi tantangan besar Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia saat ini. Harus disadari, bahwa tanpa persatuan dan kesatuan serta kebersamaan diantara pengurus PSSI dipusat dan daerah serta pelaku olahraga sepakbola, sulit untuk kita mencapai prestasi terbaik dimasa yang akan datang.

Demikian dikemukakan oleh Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Mayjen TNI (Purn) Tono Suratman dalam sambutannya sebelum membuka secara resmi Kongres PSSI Tahun 2016 di Hotel Mercure.

Pak Tono memberikan apresiasi yang setinggi - tingginya kepada semua pihak yang dengan tulus hati membulatkan tekad dan semangat melalui kongres PSSI ini untuk melahirkan kembali PSSI dengan visi dan misi serta program yang dapat membuat sepakbola kembali berjaya di negeri ini. “Keutuhan PSSI dan kepercayaan publik harus dipulihkan, curahkan pikiran, ucapan dan tindakan kita saat ini dan keedepan semata-mata untuk kejayaan sepakbola. Kesampingkan  dulu  keinginan dan kepentingan lain diluar sepakbola,” ujarnya.

Kemudian Ketua Umum KONI mengutip ucapan tokoh pemersatu Afrika Selatan Nelson Mandela yang mengatakan bahwa orang besar bukan mereka yang tidak pernah salah dan kalah, melainkan mereka yang mau insyaf dan bangkit dari setiap kesalahan dan kekalahan. “Mari kita belajar dari pengalaman masa lalu yang  kurang  baik, untuk menyonsong hari esok yang lebih baik,” tutur pak Tono.

Sebagai Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman mengajak semua untuk mengambil tanggung jawab mengembalikan PSSI sebagai organisasi yang berwibawa dan professional. Semua harus membuktikan kepada publik bahwa PSSI berisikan orang-orang berintegritas yang senantiasa mengutamakan kepentingan organisasi, bangsa dan Negara dari pada kepentingan pribadi atau golongan.

Kepada peserta kongres yang akan memilih Ketua Umum Pengurus Besar PSSI dan selanjutnya akan menyusun kepengurusan PSSI untuk periode empat tahun kedepan, pak Tono berpesan pilihlah calon ketua umum PSSI dan pengurus yang terbaik menurut peserta kongres. Pilihlah pemimpin dan pengurus  yang  mampu melaksanakan tugas, memiliki integritas pribadi yang baik, dan komitmen untuk memajukan sepakbola. 

“Secara   khusus   kepada para calon ketua umum dan pengurus saya berpesan untuk bersaing secara sehat dan jujur dengan menjunjung tinggi moralitas serta kaidah-kaidah hukum yang berlaku. Adalah sangat mulia   apabila   yang terpilih tetap bekerja sama dengan yang tidak terpilih  dan  yang tidak terpilih tetap mendukung dan memberi kontribusi positif kepada yang terpilih. Itulah makna   kebersamaan   dalam pengabdian untuk organisasi", ucapnya.

Kongres PSSI kali ini, katanya, sangat penting, karena disamping sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat pecinta sepakbola dan kita semua, juga akan menjadi titik awal kebangkitan sepakbola nasional dalam rangka menuju kejayaan sepakbola di masa yang akan datang. Seorang budayawan Belanda Johan Huizinga mengatakan bahwa, manusia adalah Homoludens atau makhluk bermain. Manusia terus berkreasi mereproduksi pemain sebagai menifestasi potensi, bakar dan kemampuan serta menunjukan dirinya sebagai makhluk  rasional dan berbudi pekerti luhur. Sepakbola merupakan olahraga permainan rakyat yang melegenda, bahkan bisa jadi yang paling popular sejagat  karena  sifatnya yang menghibur dan mempesona. 

Dari segi sosial budaya, sepakbola menyimpan harapan dan kegembiraan, bahkan dapat membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan serta nasionalisme bangsa. Dalam konteks global sepakbola menjadi sumber kebanggaan bangsa. Negara-negara Eropa seperti Jerman, Italia, Inggris dan Spanyol dikenal dunia karena sepakbola. Begitu pula Brasil, Argentina, Uruguay dan Chile di Amerika Latin.   

Meski sekedar permainan, negara-negara tersebut mengelola sepakbola secara profesional, dengan disiplin ketat dan melibatkan pelaku olahraga yang kompeten serta berintegritas tinggi. “Kita bangsa Indonesia, tentu memiliki obsesi besar untuk memajukan olahraga sepakbola dengan prestasi yang mampu bersaing ditingkat internasional seperti negara-negara Eropa dan Amerika Latin tersebut. Kita ingin sepakbola dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dimata dunia sesuai dengan tujuan olahraga nasional,” kata pak Tono.

Mengembalikan  kejayaan sepakbola nasional, adalah motivasi bagi semua pihak yang hadir dalam Kongres kali ini. PSSI adalah organisasi tempat membina prestasi sepakbola. Jika organisasi ini sehat, maka sepakbola akan berprestasi baik. Sebaliknya jika organisasi ini kurang sehat karena terus menerus menghadapi masalah yang menganggu soliditas organisasi, maka sepakbola sulit untuk berkembang dan mencapai prestasi yang kita harapkan. 

Kepada PLT Ketua Umum PB PSSI beserta segenap pengurus, Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman atas nama KONI Pusat mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas segala upaya dan pengabdian yang diberikan selama ini untuk olahraga sepakbola ditanah air tercinta. “Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Pemuda dan Olahraga atau yang mewakili atas kehadirannya dalam acara ini. Ucapan yang sama saya sampaikan kepada panitia dan semua pihak yang telah memungkinkan terlaksananya kongres PSSI ini dengan baik.”ujar pak Tono