Ketum KONI Pusat mengunjungi Team Softball Putri Indonesia pada perhelatan SEA Games 2019 Filipina
Foto Bersama Setelah Upacara Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74.
Pengurus KONI PUSAT Tahun 2019-2023
Letjen TNI (Purn) Marciano Norman Terpilih Jadi Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 dalam acara Musornas KONI di Hotel Sultan Jakarta secara Aklamasi.
Serah Terima Jabatan Ketua Umum KONI Pusat
Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman Tatap Muka dengan Karyawan di Ruang Rapat Lantai. 10 Jakarta.

Pada 15 Januari 2020, Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan Intipesan menggelar seminar nasional di Balai Kartini Jakarta. Tema seminar tersebut adalah "Peran Strategis 4 Pilar: Pemerintah, Perguruan Tinggi, Pelaku Usaha, dan Tokoh Nasional dalam Mendorong Lahir Pemimpin Berwawasan Kebangsaan". Dalam seminar tersebut Ketua Umum Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman turut serta menjadi pembicara.

Ketua Umum KONI Pusat menjadi pembicara pada sesi berjudul "Role Model Kepemimpinan Berbasis Wawasan Kebangsaan". Pembicara yang menemani Ketua KONI Pusat adalah peneliti yakni Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Laksana Tri Handoko dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Dr. Yudi Latief.

Ketum KONI Pusat, Marciano Norman sampaikan materinya yang didasari teori, pengalaman dan harapan pemimpin Indonesia ideal. Menurutnya, seorang pemimpin di Indonesia harus dapat menjaga kedaulatan, kesatuan, martabat dan sumber daya bangsa. Mengingat Indonesia yang besar dan majemuk masyarakatnya, maka masalah yang dihadapi belum tentu memiliki solusi yang sama satu sama lainnya.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2011-2015 ini ingatkan agar seseorang pemimpin harus dapat atasi gangguan yang paling berat. Kemampuan mengendalikan diri merupakan gangguan paling berat yang dimaksud. Ketika seseorang tak mampu mengendalikan diri maka ia akan berpikir bahwa dengan kedudukan tinggi dapat berbuat segalanya dan tidak ada yang mampu menghalangi.

Marciano tegaskan bahwa seorang pemimpin harus sadar akan batasan yakni aturan dan norma yang berlaku. Ketua KONI Pusat berpendapat bahwa seorang pemimpin perlu menjadi tauladan dengan mentaati aturan dan norma yang disepakati. Tauladan akan memberikan inspirasi bagi mereka yang dipimpin.

Ketua KONI Pusat juga ingatkan agar pemimpin tidak bermental “Asal Bapak Senang”. Kinerja perlu lebih diutamakan dalam mengupayakan hasil yang maksimal. Dalam memimpin 34 KONI Daerah, 514 KONI tingkat Kabupaten/Kota dan 64 cabang olahraga, diperlukan komunikasi yang baik. Rangkaian kebijakan yang mengedepankan komunikasi yang baik diharapkan dapat mendengar aspirasi. Laporan yang diberikan justru perlu diuji untuk menghindari sifat “Asal Bapak Senang”. Pemimpin bahkan perlu lakukan pengecekan ulang untuk mengetahui kebenaran laporan.

Selain dapat mengendalikan diri dan menyerap aspirasi, Marciano sampaikan bahwa seorang pemimpin juga tidak boleh 'kupingnya tipis'. Maksud ‘kupingnya tipis’ adalah langsung bereaksi atas laporan yang diterima. Pengecekan ulang kebenaran informasi harus dilakukan.

Pada akhir pembahasannya, Marciano mengajak untuk tingkatkan kepedulian terhadap apa yang terjadi dan mengangkat saudara-saudara kita yang bertindak baik. Marciano juga sampaikan pentingnya salah satu nilai yang sering didapatkan dari olahraga yakni tidak cepat puas. Dalam kepemimpinan dan kebangsaan, rasa tidak cepat puas juga dibutuhkan. “Jangan pernah berhenti dan pernah puas berbuat baik, sebagai perwujudan cinta kepada bangsa kita.", ajaknya.