English | Bahasa Indonesia
    
Powered by: 

CABANG OLAHRAGA

FORUM

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
 
 

Wartawan

Wartawan

SEJARAH ORGANISASI SIWO

Era awal orde baru tahun 1966, pers Indonesia masih didominasi oleh surat kabar harian, mingguan dan radio (RRI). Televisi satu-satunya barulah TVRI, dan masih dengan hitam putih, jangkauan siarannyapun belum menjamah seluruh tanah air. Rubrik olahraga di media massa masih merupakan rubrik tambahan yang kolomnya terbatas, bahkan kadang tergusur oleh iklan atau berita lainnya.

Dimasa itu, masyarakat olehraga Indonesia tengah berbenah diri muncul rasa tidak puas induk-induk organisasi olahraga terhadap pemerintah yang dinilai terlalu “menguasai DORI-Dewan Olahraga Republik Indonesia, membuka wacana : masyarakat olahraga perlu wadah independent yang memahami tuntutan murni olahraga.

Dalam situasi seperti inilah sejumlah wartawan ibukota yang biasa meliput dan menyenangi olahraga melakukan diskusi yang turut melibatkan tokoh-tokoh olahraga. Dalam kesempatan bertukar pikiran mereka mengusulkan upaya-upaya membangun masa depan olahraga.

Sekretariat bersama yang dibentuk oleh tokoh-tokoh induk organisasi olahraga karena tidak puas atas peran Menteri Olahraga yang selalu mempolitikan dunia olahraga, merupakan cikal bakal masa depan organisasi yang menjadi mitra diskusi para wartawan olahraga.

Wartawan-wartawan senior yang intens melibatkan diri, diantaranya Sondang Meliala (Berita Buana),Max Karundeng (Sinar Harapan), Edi Sihombing (RRI), Boy Sihobi (AB), serta wartawan-wartawan yunior, seperti Ardi Syarif (KAMI), Zuchry Husein (PAB), Rahian Usman(Antara) dan Nurdin Tambunan (Antara).

Rasa kebersamaan kepentingan profesi dikalangan peliput olahraga, menumbuhkan pemikiran untuk menggalang organisasi yang diharapkan dapat menjembatani kepentingan liputan bagi wartawan, sekaligus untuk membantu induk organisasi olahraga mengembangkan pembinaan prestasi yang menjadi tugas pokok mereka.

Kebutuhan wadah organisasi profesi ini, bukan saja untuk kepentingan tugas jurnalistik, tapi mencakup hal yang lebih luas lagi, yaitu ingin menjadikan wartawan olahraga sebagai mitra pengembangan pembinaan olahraga prestasi tanah air.

Konon pula, dari berbagai kesempatan dialog dan diskusi dengan tokoh-tokoh Sekber, seperti Brigjen Jono Suwoyo, Fery Sonoville dan lain-lain. Pemikiran yang melahirkan satu wadah keolahragaan nasional yang akan dilahirkan oleh masyarakat olahraga sendiri tanpa campur tangan pengusaha, direncanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Para wartawan olahraga melihat ini memoentum penting untuk melekatkan peran wartawan dan wartawan perlu pula membentuk organisasinya agar dapat turut berperan serta, tidak hanya menjadi pelopor berita semata.

Maka pada suatu petang di bulan Oktober 1966, atas inisiatif bersama bertemu sekitar sebelas teman-teman wartawan yang biasa meliput olahraga di Sekretariat PWI Jaya di Merdeka Selatan No.11 Jakarta, dari pertemuan itu dicetuskan sikap bersama : para wartawan peliput olahraga, membentuk wadah dan dinamakan : Seksi Wartawan Olahraga – PWI Jaya (SIWO PWI Jaya), yang menjadi satu-satunya seksi kegiatan profesi dalam tubuh PWI Jaya saat itu. Pengurusnya, Ketua : Sondang Meliala,

Wakil Ketua : Max Karundeng, Sekretaris ; Boy Sohibi. Langkah ini disepakati oleh pengurus PWI Jaya, karena memahami perlunya wartawan olahraga terlibat lebih intens dengan dunia olahraga.

Kelahiran SIWO kemudian mendorong rekan-rekan wartawan dari berbagai kegiatan profesi lain mengikuti ini, yang diawali oleh Seksi Foto dan Seksi Film.

Merdeka Selatan ii

Tidak ada wartawan Indonesia khususnya yang berdomisili di Jakarta yang tidak mengenal jalan Merdeka Selatan ii, sebuah gedung peninggalan Belanda yang berjajaran dengan Istana Wakil Presiden, Balai Kota DKI, Gedung Bakorstanas dan gedung telkom.

PWI-Jaya menempati ruangan di sayap kiri bangunan yang menghadap lapangan Monas, yang dipinjam pakai dari gedung perpustakaan milik Dep.Pendidikan & Kebudayaaan.

Di tempat inilah hampir setiap hari menjadi tempat rendevouze wartawan ibukota yang jumlahnya ketika itu masih dalam hitungan ratusan sebelum atau sesudah melakukan kegiatan. Tidak heran, jika PWI Jaya Merdeka Selatan ii, hamper terbuka selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Pada bulan Desember 1966, gagasan untuk membentuk organisasi keolahragaan nasional yang sejalan dengan prinsip yang digariskan I.O.C , yaitu bebas dari pengaturan pemerintah semakin keras disuarakan oleh pimpinan induk organisasi yang tergabung dalam Sekretariat Bersama.

Puncak dari lobi intensif Sekber, disepakatilah suatu pertemuan yang dinamakan Musyawarah Nasional Olahraga (MUNASOR), yang ditetapkan dilaksanakan tanggal 31 Desember 1966.

Wartawan olahraga Jakarta, yang sudah membentuk wadah SIWO PWI Jaya, sangat terlibat sejak awal menggelindingkan MUNASOR. Kedudukan wartawan olahraga Jakarta, yang berada di pusat kegiatan nasional menjadikan SIWO Jaya yang secara harfiahnya adalah organisasi daerah, tidak dipersoalkan oleh Sekber untuk turut serta pada MUNASOR. Disinilah keunikan wartawan olahraga Jakarta, apalagi ketika itu media nasional memang konotasinya hanyalah media yang terbit di ibukota dan daerah belum berkembang seperti dekade kemudian.

Melalui MUNASOR yang kemudian sejak 1971 berganti nama MUSORNAS (Musyawarah Olahraga Nasional) seperti dikenal sampai sekarang. Wartawan olahraga dengan SIWO nya telah turut serta mengukir sejarah berdirinya KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), organisasi nasional non government dibidang olahraga yang menjadi mitra bagi pemerintah dalam kebijakan pembangunan prestasi olahraga bangsa.

Melalui musyawarah olahraga ini masyarakat olahraga berupaya untuk  mengembalikan ”fitrah” gerakan olahraga di Indonesia sejalan dengan cita-cita gerakan Olimpiade yang dibangun dari dasar pemikiran Bapak Olimpiade, Baron Du Cubertain, bangsawan Perancis yang bercita-cita menjadikan olahraga kegiatan yang mensetarakan segenap bangsa-bangsa di dunia.

Surabaya

Pekan Olahraga Nasional ke 5 yang seyogyanya berlangsung di kota Bandung tahun 1965, karena terjadinya pergolakan politik di tanah air dengan peristiwa G.30.S /PKI akhirnya batal, padahal sebagian peserta dari daerah ada yang sudah bertolak dari tempatnya menuju kota kembang –ditanah priangan.

Begitu situasi tanah air pulih pada tahun 1967 dipikirkanlah kembali untuk menggelar PON yang sempat tertunda. Semua pihak baik masyarakat olahraga maupun pemerintah apalagi bagi KONI yang baru terbentuk – pelaksanaan PON sangan dirasakan kebutuhannya. Sebagaimana PON 1 1948, maka PON ke VII sangat strategis menjadi alat pemersatu bangsa yang baru saja terkoyak oleh gejolak politik.

Pilihan kota penyelenggara jatuh pada Surabaya. Seorang tokoh energik yang saat ini menjadi Komandan Korem Baskara Jaya, Kolonel Acub Zaenal – tampil kedepan meyakinkan kemampuan Surabaya/Jawa Timur sebagai penyelenggara PON VII.

Pada masa persiapan ini, peran penting wartawan olahraga SIWO Jaya tidak kecil. Sejak ia ditunjuk sebagai penanggung jawab penyelenggaraan PON VII, secara berkala wartawan-wartawan olahraga dari Jakarta (ketika itu media nasional masih didominasi penerbitan Jakarta ), selalu diundang dan datang ke Surabaya – melihat dari dekat jalannya persiapan, melakukan dialog dan tidak jarang kritikan-kritikan atas proses yang tengah berjalan, demi suksesnya penyelenggaraan.

Merasa punya keterkaitan erat untuk suksesnya persiapan pelaksanaaan multi even nasional pertama di awal orde baru itu, Acub pun mengundang melaui SIWO Jaya dua orang wartawan dari setiap daerah peserta sebagai tamu PB. PON VII serta seluruh anggota SIWO Jaya.

Sukses PON VII yang ditandai dari meriahnya pembukaan yang berlangsung di Stadion 10 Nopember dan dewan PON yang dibangkitkan oleh Gubernur DKI Jaya Ali Sadikin menghadapi obsesi tuan rumah Jawa Timur meraih juara umum membuat ”demam” pula kalangan wartawan.

Di fasilitasi oleh PB.PON VII, wartawan peliput yang dimotori SIWO PWI Jaya, mengadakan musyawarah untuk membentuk wadah nasional.

Ada euforia dikalangan wartawan olahraga yang merasa mereka memang tidak bisa lepas dari hasil yang digapai oleh masyarakat olahraga.

Maka Musyawarah sehari di auditorium Baskara Jaya, melahirkan SIWO PWI yang bersifat nasional. Kepada cabang-cabang PWI (kecuali DKI) diminta membentuk SIWO daerah masing-masing.

Dipanggil Menpen

Perkembangan SIWO PWI yang menduduki fungsi strategis karena perannya dalam kehidupan keolahragaan nasional sebagai mitra induk-induk organisasi rupanya menarik perhatian pula bagi Mentri Penerangan Marsekal Budiharjo.

Rupanya Pak Bud, demikian Menpan yang punya hoby photography biasa disapa, tak ingin melihat wartawan olahraga terlihat dalam “perpecahan” pengurus PWI, antara kubu Rosihan dan kubu B.M.Diah, pasca kongres PWI di Palembang 197…

Menpan memanggil pengurus PWI, di ruang kerja Menteri Jl. Merdeka Barat, para pengurus mendapat wejangan dalam suasana yang akrab.

Pesan utamanya “Sebagai wartawan olahraga – para anggota SIWO dan organisasinya jangan ikut-ikutan berpihak pada salah satu kubu”. Pesan Pak Bud ini, setidaknya untuk konsumsi publik jangan sampai SIWO latah untuk beri dukung mendukung pada salah satunya.

Sesungguhnya Pak Bud paham, teman-teman SIWO ini markasnya di Merdeka Selatan, kantornya PWI Jaya yang merupakan pendukung kuat kubu Rosihan Anwar.

Kami memang sepakat, SIWO tidak perlu turut latah mengeluarkan pernyataan, karena SIWO tak ingin

Aroma benturan terimbas pula pada kehidupan olahraga.

Untunglah perseteruan antara dua kubu Pwi itu, segera teratasi pada Kongres PWI di Pandaan-Jawa Timur, yang menampilkan Harmoko menjadi ketua umum.

Sampai dengan terbentuknya SIWO sebagai organisasi dan kemudian ikut andil sebagai pelaku dan saksi dari kelahiran organisasi keolahragaan nasional, KONI Desember 1966, wartawan olahraga ketika itu punya kemampuan terbatas akan seluk beluk ”dunia” olahraga yang menjadi bidang liputannya.

Jika permasalahan organisasi yang ada pada cabang-cabang olahraga (induk organisasi) atau KONI dan juga keterlibatan pemerintah, sudah bukan hal asing dari liputan. Tetapi ada hal yang dirasa mengganjal oleh teman-teman wartawan olahraga, bahkan oleh mereka ytang senior sekalipun yaitu kita tidak mengenal atau tidak menguasai tehnik-tehnik keolahragaan bukan untuk dipraktekan (porsi olahragawan) tetapi perlu dirasa sebagai bahan tulisan dan ulasan pemberitaan atas reportase suatu pertandingan olahraga. Tanpa mengenal tehniknya, sebagaimana kita bisa memberi makna dari penampilan seorang atau suatu tim yang bertanding, pembaca tidak memperoleh gambaran tepat.

Hal tersebutlah yang menjadi obsesi para pengurus SIWO (PWI Jaya) diawal tahun 1967.

Pimpinan KONI, pimpinan induk organisasi olahraga juga memahami kondisi ini.

Pendekatan yang dilakukan pengurus SIWO kepada Dirjen Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Brigjen Sukamto Sayidiman berbuah manis.

Sukamto sangat mendukung upaya peningkatan pengetahuan olahraga. Ditjen Olahraga memfasilitasi adanya penataran, dengan menyediakan board & loging sementara KONI dan induk organisasi menyediakan tenaga pengajar sesuai cabang olahraganya.

Setelah pembicaraan tri-partit (Dirjen Olahraga, KONI dan SIWO) matang diselenggarakanlah penataran yang dinamakan Penataran Nasional Wartawan Olahraga berlangsung selama dua pekan di Senayan.

Empat puluh wartawan olahraga dari semua koran ibukota, ditambah utusan dari Medan, Pekanbaru, Jambi, Padang, Palembang, Bandung, Yogja, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makasar dan Banjarmasin ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung sepanjang hari. Adapun  cabang olahraga yang dilibatkan ketika itu : Sepakbola, Bola Voli, Bola Basket, Tenis Lapangan, Golf,Pencak Silat, Judo.

Intens

Penulis yang turut serta selama dua pekan, sungguh merasakan arti penting penataran ini. Mungkin karena situasi yang masih euphoria orde baru, olahraga ”lepas” dari pengaruh politik, induk organisasi yang terlibat dalam penataran menurunkan segenap perbendaharaan mereka, maka para wartawan berhadapan langsung dengan pembina utama organisasi, mendapatkan pengetahuan tehnis dari ahli-ahli utama yang dimiliki induk organisasi.

Sebagai contoh,untuk memahami dan mengenal pencak silat (yang ketika itu baru akan melahirkan IPSI), tokoh setingkat Mariyun (alm) langsung turun tangan atau PSSI bukan saja menampilkan ketua umum Kosasih Poerwanegara (alm) untuk mengenalkan sepakbola Indonesia, tapi pelatih tim nasional A.E Mengindaan dan Djamiat Dalhar memberi pengetahuan skill permainan sepakbola modern.

Begitulah semua cabang olahraga lainnya, dari yang elit : golf,tenis,bola basket,menembak sampai yang merakyat : bola voli, bulutangkis,judo,atletik,renang dan senam, semua menurunkan ahli utamanya guna memelihara kebugaran peserta penataran,tak ayal setiap pagi selama 45 menit sebelumn waktu breakfast seluruh peserta digenjot untuk latihan physic dengan senam dan gerakan silat secara bergantian hari. Bayangkan bagaimana repotnya pelatih physic Pieter Panggabean atau pendekar Mariyem memberikan arahan pada asuhannya yang selama ini hanya mengerti menggiatkan saraf otak untuk menulis ketimbang otot-otot tubuhnya.

Yang penting suasana batin terbina, wartawan paham jadinya bagaimana atlet dibentuk untuk berprestasi.

Setelah orde baru mengambil alih kekuasaan pemerintahan dari orde lama, pemuka olahraga yang dipimpin Sri Sultan Hamengkubuwono IX, serta didukung pemerintah. Indonesia kembali memulihkan keanggotaannya di dunia olahraga IOC, dan federasi-federasi olahraga internasiona, wartawan olahraga Indonesia yang telah memiliki wadah organisasi (walau baru setingkat DKI Jaya), melihat perlunya keterlibatan jurnalistik olahraga Indonesia pada level internasional.

Dukungan penuh KONI Pusat, dan Dirjen Olahraga (Sukamto Sayidiman) membuat SIWO Jaya bersemangat.

Kongres Association International de La Press Spotrtive (AIPS) berlangsung di kota Florence – Italia tahun 1967. Didampingi AA. Pesik, seorang pejabat Dep.Luar Negeri yang diperbantukan pada Ditjen Olahraga, diutuslah ketua SIWO Jaya, Sondang Meliala ke Florence dengan status awal sebagai peninjau.

Atas penjelasan dan pendekatan yang dilakukan, akhirnya SIWO pun diterima sebagai anggota AIPS, dan sejak itu resmilah keterlibatan wartawan olahraga Indonesia di forum internasional.

Keanggotaan wartawan pada AIPS, bersifat individu karena setiap wartawan olahraga yang diajukan keanggotaannya oleh organisasi negara masing-masing akan mendapatkan kartu anggota tahunan setelah membayar. Banyak kemudahan yang didapat jika seorang wartawan memiliki kartu AIPS, apabila yang bersangkutan meliput berbagai even atau multi even internasional.

Rudy Hartono

Wartawan olahraga punya cara sendiri untuk menjadikan dirinya sebagai bagian dari pembinaaan prestasi anak bangsa.

Terbentuknya SIWO sejak semula tidak lepas dari obsesi wartawan sendiri menjadikan keberadaannya tidak saja sebagai penyampai kabar atas apa yang terjadi di arena lapangan ataupun dari markas induk organisasi, mereka juga berupaya bagaimana pers berperan untuk mendorong kemajuan, memotivasi semangat atlet atau pembina olahraga.

Terdorong oleh semangat yang demikian itulah rapat pengurus SIWO Pusat mencetuskan perlunya diselenggarakan pemilihan olahragawan terbaik setiap tahun.

Sesuai jamannya, pemilihan pertama tahun 1971 dilakukan sendiri oleh pengurus SIWO Pusat memilit atlet terbaik tahun 1970 berdasarkan prestasi puncak pada saat itu.

Tidak pelak cabang olahraga bulutangkis dengan prestasinya yang dominan di pentas dunia adalah cabang olahraga yang hampir setiap tahun tampil di pentas terbaik dari era 70 sampai dengan 80 an

Rudy Hartono, maestro bulutangkis yang sejak tampil perdana pada Thomas Cup 1967 di Istora Senayan, kemnudian berturut-turut merajai arena All England di Wembley mendominasi pilihan terbaik SIWO- empat kali berturut-turut.

STE, setidaknya telah menorehkan peran serta wartawan olahraga untuk pengembangan olahraga tinju, mencari bibit-bibit unggul yang dibina oleh daerah. Kota Ambon tepatnya gedung olahraga Karang Panjang yang berlokasi pada kawasan bukit di atas kota, setiap malam selama sepekan menjadi hiruk pikuk penggemar tinju mendukung favorit masing-masing pada tahun 1976, memperebutkan juara STE pertama.

Sarung tinju terbuat dari lapisan emas murni karya pengrajin logam dari Kota Gese Yogyakarta, disumbangkan oleh seorang pembina olahraga dari daerah Lampung, Ir. Marzuki yang juga seorang pemilik klub sepakbola yang berkiprah pada kompetisi galatama PSSI, Jaka Utama begitulah, STE berjalan sesuai rencana pada awal-awal kegiatannya dari Ambon ke Banda Aceh – Tg.Karang- Padang dan beberapa kota lainnya.

Pergantian pucuk pimpinan PB.Pertina dari Saleh Basarah, turut mempengaruhi ”gairah” pertina untuk melanjutkan STE sebagaimana komitmen awal.

Perlu diberi catatan, orang pertina yang sangat gigih mendorong SIWO untuk merealisir STE, Kusnadi tidak sempat menyaksikan sebuah gagasan yang dilontarkannya karena ia lebih dahulu menghadap Sang Pencipta sebelum acara ini digelar.

Setelah terbentuknya SIWO PWI Jaya, maka intensitas hubungan dengan masyarakat olahraga, yang terdiri dari induk-induk organisasi olahraga yang tergabung dalam sekretariat bersama (l.k.23 induk organisasi) semakin intensif dan setiap kegiatan yang ada selalu dikomunikasikan pada SIWO.

Perkembangan SIWO

Menyadari wartawan yang melibatkan diri diliputan olahraga masih ”amatiran” maka langkah kongkrit untuk membekali pengetahuan keolahragaan pada wartawan, pada Februari 1967 dilakukan Penataran Nasional Wartawan Olahraga pertama yang disponsori KONI Pusat dan Dit-jora (Direktorat Jenderal Olahraga) SIWO PWI Jaya dengan peserta dari daerah antara lain diikuti utusan dari Medan, Pekanbaru, Jambi,Padang, Palembang, Lampung, Semarang, Surabaya dan Makasar. Kemudian tahun 1968, penataran nasional ke II diselenggarakan lagi dengan peserta yang lebih banyak dari sebelumnya.

Langkah-langkah SIWO PWI Jaya berhasil menempatkan diri dalam kegiatan olahraga nasional dan rubrik olahraga semakin mendapat kolom di media cetak, baik ditingkat pusat maupun daerah. Bahkan,  kemudian rubrik olahraga merupakan salah satu rubrik yang menjadi andalan bagi koran-koran terkemuka dan menarik perhatian keluarga besar wartawan Indonesia. Di PWI Jakarta kemudian menyusul berdiri seksi-seksi profesi lain, seperti film, foto dan ekonomi. Kiprah SIWO PWI Jaya, secara khusus mendapat perhatian di Kongres PWI tahun 1968 di Banjarmasin. Dengan mengakui keberadaan SIWO Jaya dan merekomendasikan pada PWI cabang lainnya, jika ingin adanya SIWO setempat.

PON ke VII tahun 1969 di Surabaya, adalah momentum yang dimanfaatkan optimal oleh wartawan olahraga yang meliput PON tersebut. Atas inisiatif SIWO Jaya, dan dukungan SIWO Surabaya, diadakan Musyawarah Kerja Wartawan Olahraga, dan lahirlah SIWO PWI Pusat.

Perkembangan ini menjadi salah satu topik bahasan pada Konferensi Kerja PWI di Kinilow – Sulut pada tahun 1969. Sondang Meliala yang terpilih sebagai Ketua SIWO Pusat dan menjadi utusan Konker PWI ini, menjelaskan perkembangan yang terjadi. Konker PWI kemudian mendapatkan status ekonomi pada SIWO, dan dapat beraktifitas sesuai dengan tuntutan kegiatan olahraga nasional dan internasional.

Dengan status otonomi itu, SIWO baik pusat maupun daerah semakin dapat mengembangkan aktifitasnya sebagai bagian dari masyarakat olahraga Indonesia.

Di tiap-tiap daerah, SIWO-SIWO daerah menjadi anggota KONI daerah. Keberadaan mereka diterima dalam kehidupan olahraga, bukan saja sebagai peliput kegiatan, tetapi perannya menjadi mitra yang duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan komponen masyarakat olahraga lainnya. Pengurus-pengurus SIWO diberbagai daerah, duduk dalam kepengurusan KONI daerah, wartawan-wartawan, sebanyak yang duduk dalm kepengurusan cabang olahraga.

Peran Internasional

Tahun 1968, SIWO yang keberadaannya baru di DKI, telah merambah ke internasional. Atas prakarsa dan dukungan Dirjen Olahraga, Bpk. Sukamto Sayidiman menugaskan stafnya, AA.Pesik mendampingi Ketua SIWO, Sondang Meliala ke Kongres AIPS (association International de la Presse Sportive), di Bukarest Rumania. Di sini SIWO diterima menjadi anggota AIPS, organisasi wartawan olahraga internasional yang juga berafikasi ke IOC. Sejak itu SIWO tidak pernah absen dari aktifitas AIPS.

Pada Desember 1978 bertepatan dengan berlangsungnya Asian Games Bangkok, wartawan-wartawan olahraga Asia menyelenggarakan pertemuan untuk membentuk organisasi wartawan olahraga Asia. Pertemuan ini diprakarsai oleh Mikawa, ketua AIPS di Asia, dihadiri oleh utusan-utusan negara-negara peserta Asian Games, berlangsung sehari penuh di Hotel Hyatt.

Pertemuan menghasilkan berdirinya Asian Sport Journalis Union (ASJU), yang kelak berubah nama menjadi Asian Sport Press Union (ASPU) sampai sekarang.

Dalam pembentukan ASJU, penulis yang mewakili Indonesia berhasil mendapatkan posisi sebagai anggota EXCO yang kemudian diduduki oleh ketua Departemen Wartawan Olahraga PWI Pusat, Sondang Meliala.

Dalam upaya meningkatkan kerjasama wartawan olahraga Asia, SIWO berhasil menyelenggarakan dua pertemuan (seminar) wartawan olahraga Asia di Jakarta yaitu tahun 1973 dan pada tahun 1977 bertepatan dengan penyelenggaraan PON  di Jakarta. Pada dua seminar tersebut, tokoh-tokoh AIPS hadir seperti Sekjennya Bobby Naidoo (Inggris), Steve Malonga, Ketua AIPS utusan Afrika, dan Togay Bayalti asal Turki.

Sejak SIWO PWI berstatus otonom, SIWO PWI telah mengadakan beberapa kali Musyawarah Kerja Nasional untuk memilih kepengurusan SIWO PWI Pusat tahun 1969, 1973, 1977-1981. Musyawarah Kerja Nasional selalu bersamaan dengan berlangsungnya PON di Jakarta.

Dalam perjalanannya SIWO PWI telah mengadakan kegiatan-kegiatan olahraga yang bekerjasama dengan organisasi olahraga nasional antara lain dengan Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) mengadakan perebutan SIWO CUP pertama kali tahun 1976 di Jakarta, dengan PB.PERTINA, SIWO PWI Pusat mengadakan Kejuaraan Sarung Tinju Emas (STE) untuk pertama kali diadakan di Ambon, sejak 1971 melakukan Pemilihan Pembina, penunjang dan Atlet terbaik SIWO PWI secara nasional dan terakhir tahun 1978.

Salah satu catatan emas, kelahiran Galatama (kini Liga Mandiri), PSSI tidak lepas dari peran SIWO PWI Pusat, pernah menyelenggarakan dua kali seminar sepakbola bertempat di Press Club Jakarta, yang melibatkan tokoh-tokoh sepakbola, pengurus PSSI, bahkan Ketua LIPI waktu itu (Dr.Bachtiar Rivai) turut menyumbang pikiran. Dari seminar dua kali ini kemudian lahirlah apa yang dikenal dengan Galatama, sebagai rumusan yang dikemas oleh Yusuf Kadir dan Suparyo Poncowinoto.

SIWO Pusat :

Ketua                  : Raja Parlindungan Pane (Batak Pos)

Wakil Ketua       : Marjan Zen (Pikiran Rakyat)

Sekretaris           : Agus Baharudin (Suara Pembaruan)

Anggota               : Rudi Novrianto (Majalah Konsultan)

                                Gungde Ariwangsa (Suara Karya)
 
Alamat: Gedung KONI Lt 9
Jl Pintu I Senayan Jakarta Pusat 10270
Telp/Fax: 021-5732983
email: siwo@gmail.com
 
Sumber : SIWO KONI Pusat  
Ellyas Pical (Tinju)
Yayuk Basuki (Tenis)
  • 16/02/2012 - 17/02/2012
    Rapat Anggota KONI Tahun 2012

GALLERY