ajax-loader
rocket

Sejarah

1938

Di tengah keresahan terhadap diskriminasi  penggunaan fasilitas olahraga, para pemuda Indonesia mendirikan Ikatan Sport Indonesia (ISI). Berbentuk federasi, ISI beranggotakan PSSI (Perserikatan Sepak Bola Indonesia), Pelti (Perserikatan Lawn Tenis Indonesia), dan Perserikatan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI).

ISI adalah kelanjutan dari semangat perikatan sport Indonesia yang dikenal dengan Sportbond yang berusaha menghimpun kekuatan seluruh insan yang secara umum belum mempunyai organisasi yang sah, dan sudah mulai ada komunikasi dengan Komite Olimpiade Asia.

Penyelenggaraan Sport Week dirancang setiap tahun oleh ISI sehingga membangkitkan persatuan dan persaudaraan masyarakat olahraga. (Nilai Heroisme). ISI menunjukkan jati diri kebangsaan Indonesia melalui pertunjukan olahraga yang melibatkan berbagai cabor yang juga eksis sampai sekarang. (Anti Penjajahan). ISI menjadikan kegiatan Pekan Olahraga (Sport Week) sebagai instrument persatuan sehingga memenuhi kaidah perjuangan (Alat Perjuangan)

Organisasi ISI merupakan sarana untuk memperjuangkan bangsa Indonesia untuk dihargai sebagai bangsa oleh Pemerintah Kolonial Belanda baik aspek olahraga maupun pergerakan nasional, dikarenakan pendiri organisasi ini adalah Voolksrad (Dewan Perwakilan Rakyat Masa Pemerintah Kolonial)

Pada tanggal 15 Oktober 1938 adalah waktu yang tepat untuk dijadikan suatu tonggak sejarah berdirinya suatu organisasi olahraga yang mewadahi seluruh aspirasi perkumpulan-perkumpulan olahraga yang dinamis dan demokratis.

Pada tanggal 15 Oktober 1938 merupakan momentum sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui olahraga dengan terselenggaranya multi event.

1946

PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) sebagai badan olahraga bersifat nasional dan KORI (Komite Olimpiade Republik Indonesia) dibentuk oleh para Pemimpin olahraga eks pengurus GELORA, eks pengurus PUTERA, pengurus ISI dll., pada Kongres Olahraga I di Surakarta.

Kedudukan di Yogyakarta
Ketua Umum PORI        : Widodo Sastrodiningrat

Seksi Cabang Olahraga :

1. Sepakbola : Maladi
2. Atletik : Abdul Aziz
3. Renang : Soejadi
4. Tenis : Soerjo Hamidjojo
5. Bulutangkis : Tri Tjondro Koesoemo
6. Basket : Tonny Wen
7. Bola Keranjang : Soemantri
8. Panahan : Sri Paku Alam VIII
9. Anggar/Menembak : Tjokroatmodjo
10. Pencak Silat : Wongsonegoro
11. Gerak Jalan : Djoewadi

 

Ketua Umum KORI : Sri Sultan Hamengku Buwono IX

 

1948

PON I diselenggarakan di Surakarta (9-9-1948).

PORI dan KORI membentuk delegasi untuk menghadiri Olympic Games XIV, London, namun gagal karenasituasi politik.

1949

Kongres PORI III, Induk Organisasi mendapat hak otonomi, PORI sebagai badan koordinator.

1950

PORI diubah jadi Persatuan Olahraga Indonesia (PORI) KORI diubah jadi KOI (Komite Olimpiade Indonesia)

1951

Indonesia ikut serta dalam Asian Games I di New Delhi. Dalam persiapan tim ke Asian Games terjadi adanya tumpang tindih pelaksanaan tugas antara PORI dan KOI. Pada Kongres PORI – KOI bertepatan dengan PON II di Jakarta, dicapai kesepakatan bahwa demi efisiensi PORI melebur ke KOI. Ketua tetap Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

1952

KOI mendapat pengakuan IOC dan untuk pertama kali Indonesia ikut serta pada Olympic Games XV Helsinki.

1959

DAGI (Dewan Asian Games Indonesia) dibentuk pemerintah.

  • Tugas DAGI mempersiapkan penyelenggaraan Asian Games IV 1962.
  • KOI sebagai badan pembantu DAGI dalam hubungan internasional
     

1961

KOGOR (Komando Gerakan Olahraga) dibentuk pemerintah.

  • Tugas KOGOR mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia.
  • Induk-induk organisasi olahraga sebagai pelaksana teknis cabang olahraga yang bersangkutan.
  • KOGOR dibentuk ditiap daerah tingkat I, bertugas menggerakkan olahraga membina bibit menunjang pembinaan olahraga nasional.
  • Demokrasi terpimpin dengan pengerahan segenap "fund and forces” semaksimal mungkin.
     

1962

DEPORA (Departemen Olahraga) dibentuk, dipimpin oleh Menteri Maladi.
Asian Games IV diselenggarakan di Jakarta (24/8 - 4/9 – 1962).
 

1963

Februari, KOI diskors oleh IOC karena tidak mengundang Israel dan Taiwan dalam Asian Games IV.
Juni, skorsing dicabut oleh IOC.
GANEFO I diselenggarakan di Jakarta (10 – 22/11-1963).
 

1964

Kongres PORI III, Induk Organisasi mendapat hak otonomi, PORI sebagai badan koordinator.

  • Tugas DORI :
    • Menetapkan kebijakan umum olahraga.
    • Membina dan mengawasi seluruh kegiatan olahraga
  • Tugas DEPORA :
    • Mengelola pembibitan, pembinaan SDM (penataran pembina,pelatih,dsb)
    • Penelitian dan pengembangan.
    • Dukungan anggaran serta pembangunan dan pengembangan prasarana sarana olahraga.
       

1965

Sekretariat Bersama Induk-induk Organisasi Cabang Olahraga dibentuk (25 Desember 1965), mengusulkan mengganti DORI menjadi Komite Olahraga Nasional Indonesia yang mandiri dan bebas dari pengaruh politik. Presidium Sekretariat Bersama (Sek Ber)

  • Brig.Jen. Jonosewojo (PELTI).
  • Kombes Pol. Tjoek Soejono (PABBSI)
  • Drs. Ferry Sonneville (PBSI)
  • Kol. Saelan (PSSI)
     

1966

SK Presiden (Soekarno) No. 143 A dan 156 A tahun 1966 mengukuhkan dibentuknya KONI ("lama") sebagai pengganti DORI. Badan baru ini tidak dapat berfungsi karena tidak didukung oleh Induk Organisasi Olahraga berkenaan situasi politik pada masa itu

  • Kabinet Ampera dibentuk oleh Presiden Soeharto. Depora dibubarkan dan dibentuk Direktorat Jenderal Olahraga dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • KONI ("baru") dibentuk oleh Induk Organisasi Olahraga (31 Desember 1966) dengan Ketua Sri Sultan Hamengbuwono IX.
  • KOI diketuai oleh Sri Paku Alam VIII.
     

1967

KONI dikukuhkan dengan SK Presiden (Soeharto) No. 57 Tahun 1967.
Status KONI :

  • KONI adalah badan mandiri dan non pemerintah, artinya kegiatan olahraga kembali kepada masyarakat.
  • KONI sebagai mitra membantu pemerintah dibidang olahraga.
  • KONI tidak dikendalikan kelompok kekuasaan dan bebas dari kepentingan politik.
     

1978

Dengan alasan efisiensi KONI – KOI menjadi satu, pengurusnya sama namun fungsinya berbeda.
KONI melakukan pembinaan di dalam negeri
KOI melakukan kegiatan dalam hubungan luar negeri
Ketua Umum KONI sekaligus Ketua KOI, Sri Sultan HB IX.
 

2005

Pemerintah menerbitkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan memecah KONI menjadi KON dan KOI. KON melakukan pembinaan dalam negeri dan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional, KOI melakukan kegiatan pengiriman atlet keluar negeri dan penyelenggara pekan olahraga internasional di Indonesia.

2007

Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 16, 17, dan 18 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan UU No.3 Tahun 2005. KONI menyelenggarakan Musornas Luar Biasa (Musornaslub) antara lain mengesahkan anggaran dasar KONI dan KOI serta Rita Subowo sebagai Ketua Umum KONI dan KOI masa bakti 2007-2011.

2010

Rakor di Surabaya, seluruh peserta KONI Provinsi merekomendasikan pembentukan Pokja Amandemen UU No. 3 Tahun 2005 tentang SKN dan penyatuan KONI dan KOI.

2011

Musornas KONI di NTB, Tono Suratman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat.

2012

RAT KONI memutuskan perlu adanya penyempurnaan AD/ART KONI. Dibentuk Pokja dari unsur KONI Pusat, KONI DKI Jaya, Kalbar, Sultra, PB Perbakin, dan PB IKASI. Pada Desember 2012, Rembuk Olahraga Nasional KONI di Balikpapan merekomendasikan perlunya pemerintah menetapkan aturan untuk KONI yang implementatif sebagai satu-satunya wadah organisasi dalam mencapai prestasi Nasional menuju prestasi Internasional.

2019

Musornas KONI di Jakarta, Marciano Norman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat .